Menerima Kontribusi Artikel√ (Backlink Anchor Text ) kontak : profil

Perang Digital Memanas GARA GARA Mata Uang Digital Dan 5G

Jaringan 5g huawei

Lagi malas baca?, tonton video lengkapnya :

Digital Warfare Part 1

Beberapa waktu lalu desas desus rupiah dalam bentuk digital sempat mencuri perhatian saya untuk mampir melihat-lihat aktivitas apa saja yang terjadi di dunia persilatan digital tanah air. Di tambah draft usang yang sudah berjamur membangun antusiasme saya untuk update dalam beberapa minggu terakhir, yang pada akhirnya semuanya membaur menjadi satu ke dalam segment "Digital Warfare". 

Di tengah panasnya medan pertempuran digital, ternyata kubu tiongkok salah satu yang terkuat sudah lebih dulu hadir mengutus salah satu warriornya " Bank rakyat china" dengan tombak yuan digital di tangannya yang juga mata uang digital bank central atau CBDC. Meskipun masih dalam tahap uji coba di beberapa kota besar di tiongkok, namun kehadirannya menandakan warrior ini sudah akan siap tempur memimpin warrior lain dari kubu Tiongkok dan china menjadi negara pertama di dunia yang sudah menerbitkan mata uang digitalnya.  Namun nyatanya bank rakyat china bukan satu satunya warrior dari kubu Tiongkok yang siap bertarung, masih ada petarung lama Alibaba dengan Alipay dan Tencent dengan wechat pay yang sebelumnya sudah berhasil mengambil hati rakyat di tanah air kubu Tiongkok. Dan masih ada warrior lainnya dalam barisan pasukan. Alasan di utusnya warrior baru ini jelas sebagai pemimpin perang di semua sektor medan pertempuran digital, karna mereka tahu arena ini tidak kalah sengit dari arena yang sudah-sudah. 

Kubu Tiongkok sudah siap, tapi apa kabar dengan warrior kubu seberang yang dikenal sebagai pesaing berat dengan warrior-warrior gaharnya?, bukan paman sam namanya jika tidak mengambil tindakan, layaknya pertarungan berpengalaman, kubu seberang Amerika juga tidak tinggal diam melihat hal tersebut, strategy demi strategy disusun rapi, departemen Keuangan secara terbuka telah membahas potensi dolar digital. Ketertarikan untuk hadir dalam medan tempur baru ini sudah dirasakan dari para warrior, ambil contoh diantaranya perusahaan Tesla yang memborong bitcoin senilai 1,5 milyar US dollar, bos twitter Jack doresey dan Grayscale menyumbang 1 juta US dollar kepada coincenter, dan Libra berbasis blockchain yang telah di usulkan Facebook melalui sebuah konsorsium bernama Libra accociation dan telah berganti nama menjadi Diem yang dirilis pada akhir 2021. Hiruk pikuk medan tempur ini pun telah sampai ke telinga panglima Besar ; Amazon, yang pada akhirnya membuat warrior yang satu ini turun dari tahta, mengikuti jejak Facebook untuk menghadirkan mata uang digital sendiri. 

Dari sekian banyak kubu, kenapa keduanya harus menjadi pusat perhatian dalam arena ini?, apa kabar dengan warrior di kubu lain? , mestinya harus realistis dengan papan skor board keduannya, Amerika Serikat dan china terus berkompetisi menjadi pemimpin dunia termasuk dalam hal teknologi digital, potensi sengitnya pertarungan di arena baru ini bisa di prediksi berdasarkan Digital Economy report 2019 oleh United Nations Conference On Trade dan Development. AS dan China menguasai sekitar 90% nilai pasar dari 70 platform digital terbesar didunia dan memiliki sekitar 75% dari semua paten terkait dengan teknologi blockchain. Selain itu, mereka bertanggung jawab atas sekitar 50% pengeluaran global untuk internet of things (ioT) dan mendominasi 75% pasar komputasi cloud. Buset dah, jika di lihat dari angka-angka ini, 2 negara saja bisa menyentuh angka 90%, pertanyaannya apa kabar yang lain lain? 

Sampai sekarang posisi 10 besar teratas perusahaan digital terbesar didunia masih dipegang keduanya, sehingga tidak heran sengitnya arena sebelumnya menimbulkan perang diplomatis antar keduannya dan ini sudah terjadi sejak lama, mulai dari china yang menolak menggunakan produk digital dari kubu sebelah, sampai yang terbaru yaitu penolakan jaringan 5G huawei milik china oleh Amerika dengan dalih kemanan data. Kampanye ini terus berlanjut terhadap huawei tecnologies, seiring sejumlah negara mengecualikan perusahaan china tersebut dari infrastruktur 5G mereka. 

Mengingat sepak terjang huawei telah menjadi merek terkemuka di tanah airnya sendiri;china. Selama beberapa tahun terakhir, rekor tertinggi yang pernah di raih pada kuartal 2 tahun 2020 lalu yang lebih dari 30% . Pada kuartal ke 5 2020, huawei berhasil menyalip warrior tetangganya samsung dengan menjadi manufaktur ponsel pintar terbanyak di dunia. Tapi kini nasib warrior yang satu ini mengalami terjun bebas akibat sanksi dari Amerika Serikat, pangsa pasar huawei di china mengalami penurunan menjadi 16% pada kuartal akhir tahun lalu. 

Mulai dari 2020 lalu produk 5G huawei memang sedang berada dalam posisi yang tidak menyenangkan yang di awali oleh Inggris menolak layanan tersebut, hingga tetangganya Rumania pada April 2021 lalu menyetujui RUU yang di dukung kubu Paman Sam secara efektif melarang China dan Huawei untuk mengambil bagian dalam pengembangan jaringan 5G di negara itu. warrior ini pun makin kesulitan melawan sanksi yang di rancang kubu paman sam yang mulai di implementasikan pada pertengahan September 2029 lalu untuk mencekik aksesnya ke semifinal konduktor. 

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Perang Digital Memanas GARA GARA Mata Uang Digital Dan 5G"

Post a Comment

ads

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel