konten

Laporan praktikum EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN (ESDH)

  LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN (ESDH)

BAB I
                         PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN merupakan kawasan pelestarian plasma nutfah ex situ Kalimantan Barat. Maksud pengelolaan arboretum ini adalah untuk pelestarian dan perlindungan bagi flora dan fauna spesifik Kalimantan Barat khususnya. Sedangkan tujuannya adalah sebagai tempat pengembangan keanekaragaman hayati, tempat pengembangan pendidikan, pengembangan hutan kota serta sarana rekreasi dan hiburan bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat berbagai jenis tumbuhan baik pohon, perdu, maupun tumbuhan bawah.

   Menurut Harjosuwarno (1993) tumbuhan sebagai saalah satu anggota komunitas hutan, tampak berperan sangat penting dalam ekosistem hutan yang diperhitung kan. Kehadiran tumbuhan dapat memperbaiki kestabilan ekosistem pada hutan yang tidak sejenis (Heterogen) dan tidak seumur. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dan kemampuan tumbuhan bawah untuk mempertahankan siklus hidroligis dan hara adalah contoh fungsional yang diperankan oleh tumbuhan bawah. Namun demikian, tumbuhan bawah tersebut sangat ditentukan oleh pola diistribusi serta penyebarannya. Komposisi dan keanekragaman tumbuhan bawah ikut menentukan struktur hewan yang ada pada akhirnya akan berpengaruh pada fungsi ekologi hutan. Selain tumbuhan bawah juga merupakan sumber kekayaan plasma nutfah yang harus dilestarikan, dipelajari, dimanfaatkan.

 Tumbuhan bawah memiliki berbagai manfaat, salah satunya sebagai tanaman obat. Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang telah diidentifikasi dan diketahui oleh pengamatan manusia memiliki senyawa yang bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit. Kekayaan jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan tropis Indonesia berasal dari berbagai tipe ekosistem hutan tidak kurang dari 1260 jenis tumbuhan obat, tidak kurang dari 180 jenis diantaranya saat ini dieksploitasi dari hutan untuk bahan baku industri obat tradisional di Indonesia (Zuhud, 1997), namun bagian yang terbesar masih tersimpan secara in-situ di kawasan hutan. Selajalan dengan makin berkembanganya teknologi, maka industri obat tradisional telah memanfaatkan berbagai spesies tumbuhan sebagai bahan baku obat dan masih banyak lagi khasiat obat dari kekayaan tumbuhan obat yang masih belum terungkap secara baik. Terutama informasi mengenai tumbuhan bawah berkhasiat obat, di Kawasan Arboretum Sylva Indonesia PC UNTAN ini masih sangat terbatas, untuk itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai jenis-jenis tumbuhan bawah berkhasiat obat.

B. Tujuan dan Manfaat

1. Tujuan
Mengidentifikasi tumbuhan bawah berkhasiat obat di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN yang belum teridentifikasi.

Mengembangkan riset di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN terutama mengenai tumbuhan bawah berkhasiat obat.

Mengetahui morfologi dan klasifikasi tumbuhan bawah berkhasiat obat di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN.

2. Manfaat

Mengetahui jenis-jenis tumbuhan bawah yang berkhasiat obat yang ada di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN. Menjadi daya dukung dalam pengelolaan Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN.
Menambah data flora (tumbuhan bawah berkhasiat obat) di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tumbuhan Bawah

Tumbuhan bawah merupakan komunitas tanaman yang menyusun stratifikasi bawah dekat permukaan tanah. Tumbuhan ini umumnya berupa rumput, herba, semak, perdu, dan semai pohon (seedling) (Aththorick, 2005). Sedangkan menurut (Harjosuwarno, 1998) Tumbuhan bawah adalah jenis-jenis tumbuhan di dalam tegakkan yang sudah ada sehingga jenis-jenis tersebut dapat membentuk suatu lapisan tajuk. Pada umumnya tumbuhan bawah terdiri dari rumput-rumput (Herba) semak, perdu. Tumbuhan bawah tersebut populasinya tergantung insensitas cahaya yang sampai pada lantai hutan setelah melalui tajuk. Semakin jarang semai berarti tajuk saling bersinggungan, maka populasi tumbuhan bawah akan lebih besar (Rujiman, 1993 dalam Noorrati, 1996).

(Rujiman, 1993 dalam Noorrati, 1996) menyatakan bahwa yang di maksud dengan pohon ,perdu, semak adalah tumbuhan yang batangnya tidak berkayu atau yang di sebut pula tumbuhan herbal. Komunikasi tumbuhan bawah merupakan salah satu komponen ekosistem hutan yang sangat penting ke anekaragaman tumbuhan bawah dan kecepatan dekomposisi serasa tumbuhan itu berpengaruh berpengaruh terhadap mekanisme kehidupan dalam ekosistem hutan.Tumbuhan berperan penting dalam siklus unsur hara tahunan. Menurut (Noorrati,1996) mengungkapkan bahwa serasa tumbuhan bawah yang di kembalikan pada tanah yang mengandung unsur-unsur hara yang cukup tinggi ,selain itu tumbuhan bawah juga di manfaatkan sebagai sumber pecan satwa,obat-obatan dan plasma nufta serta berperan sangat penting dalam pengaturan hidrologi hutan.

B. Tumbuhan Berkhasiat Obat

Menurut Departemen Kesehatan RI, definisi tanaman obat Indonesia sebagaimana tercantum dalam SK Menkes No. 149/SK/Menkes/IV/1978 adalah sebagai berikut :

Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat atau jamu
Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat.

Tanaman atau bagian yang di ekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat.

Menurut Suhardiman (1990), tumbuhan obat adalah tumbuhan yang bagian tubuhnya (akar, batang, kulit, daun, umbi, buah, biji, dan getah) mempunyai khasiat obat dan digunakan sebagai bahan mentah dalam pembuatan obat modern dan tradisional. Menurut Hernani dan Sri (1990) tumbuhan obat adalah tumbuhan yang menghasilkan satu atau lebih komponen aktif yang digunakan untuk perawatan kesehatan atau pengobatan.

Tumbuhan berkhasiat obat di kelompokan menjadi tiga kelompok sebagai berikut (Zuhud, Ekarelawan, dan Riswan, 1994) :
Tumbuhan obat tradisional, merupakan spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional.

Tumbuhan obat modern, merupakan spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaan nya dapat di pertanggung-jawabkan secara medis.

Tumbuhan obat potensial, merupakan spesies tumbuhan yang di duga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah atau secara medis sebagai bahan baku obat.

Menurut (Wijayakusuma, Dalimartha dan Wirian, 1994), ada 4 macam sifat dan 5 macam ciri rasa dari tanaman obat, yang merupakan suatu bagian dari cara pengobatan tradisional Timur. Empat macam sifat dari tanaman obat yaitu : dingin, panas, hangat, dan sejuk. Sifat dingin dan sejuk digunakan untuk pengobatan misalnya demam. Sedangkan lima macam cita rasa dari tanaman obat yaitu : pedas, manis, asam, pahit, dan asin. Rasa pahit pada tanaman obat biasanya digunakan untuk pengobatan penyakit malaria. Menurut (Zuhud,1991) dalam pidato pengarahan materi kehutanan pada Seminar Pelestarian Pemanfaatan Tumbuhan Obat tahun 1990, Wardoyo mengatakan bahwa bahan obat-obatan itu dapat diperoleh mulai dari tumbuhan yang berbentuk pohon, semak, liana, sampai pada bentuk umbian..

C. Arboretum Sylva Indonesia PC UNTAN

Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN merupakan sebuah kawasan yang ditanami pepohonan dan tumbuhan lainnya sehingga membentuk struktur menyerupai hutan dan merupakan sebuah kawasan untuk pelestarian plasma nutfah di Kalimantan Barat yang dapat Mengkoleksi Tanaman Hutan (arboretum). Konsep Arboretum ini tercetus pada masa kepengurusan Ir. Achmad Sanusi. T (Periode 1986 - 1988). Pencetusan ide pembangunan sebuah areal peletarian plasma nutfah yang sekaligus merupakan hijauan kampus ini dilatar belakangi oleh keinginan dalam menindak lanjuti salah satu hasil rumusan dari Seminar tentang Hutan Kota dan Hijauan Kampus yang diadakan pada tahun 1987. Kemudian pada tahun 1990 pada masa kepengurusan Ir. Gusti Kamboja (Periode 1988 – 1990) pada saat konfrensi nasional Sylva Indonesia di Bogor timbul gagasan untuk mengubah kawasan hijau tersebut menjadi sebuah kawasan Arboretum yang lokasinya berada disamping Gedung Fasilitas Bersama dengan luas lebih kurang 3,25 Ha.

Kemudian Secara fisik pembangunan Arboretum yang baru dimulai dengan melakuan pembersihan semak belukar dengan melibatkan segenap pengurus dan anggota Sylva yang terdiri dari angkatan 1984 sampai 1988 serta pengukuran yang dilakukan oleh Dr. Ir. H. Gusti Hardiansyah MSc. Qam, Ir. Fahrizal, Ir. Kamboja, Ir. Adi Mulya dan Ir. Budi Suriansyah. Pembangunan ini sempat tersendat karena selain kekurangan dana juga tidak ada badan khusus yang menanganinya. Menyadari akan hal itu, pada tanggal 5 Maret 1990 Ir. Kamboja mengadakan Diskusi Informal Pembangunan Arboretum, dari hasil diskusi ini dipandang perlu adanya badan khusus untuk membangun Arboretum ini. Kemudian pada tanggal 9 Maret 1990 beliau menunjuk Ir. Budi Suriansyah sebagai ketua pelaksanan pembangunan Arboretum.

Dalam menjalankan mandat tersebut langkah awal yang dilaksanakan oleh pertama yang dilakukan oleh Ir. Budi Suriansyah adalah membentuk suatu organisasi badan khusus yang diberi nama STAR (Staff Arboretum) yang anggotanya sebagian besar adalah dari angkatan 1987 dan sebagian lagi angkatan 1986 dan 1985. Selanjutnya guna adanya pusat segala kegiatan pembangunan Arboretum maka pada tanggal 24 Maret 1990 dibangunlah sebuah pondok kerja dengan ukuran 3 X 4 meter yang dinamai dengan sebutan CAPPA (Camp Pembinaan Dan Pengembangan Arboretum) dengan fasilitas persemaian dengan ukuran 2 X 4 meter.

Kawasan Arboretum Sylva UNTAN dulunya merupakan bekas kebun ubi dan jagung yang terbengkalai kemudian ditumbuhi rumput dan alang-alang. Pada masa awal penanaman pohon di Arboretum sempat beberapa kali mengalami kegagalan di karenakan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah struktur tanah yang buruk dan pemilihan jenis pohon yang ditanam kurang tepat dengan kondisi lapangan.Setelah sempat gagal di awal, lahan tersebut kembali ditanami dengan jenis-jenis pohon pioneer yang tepat disertai dengan perlakuan yang intensif dan rutin. Pohon-pohon pioneer tersebut berhasil tumbuh dan beberapa tahun kemudian struktur tanahnya mulai membaik dan naungan alami mulai tercipta dari tutupan tajuk pohon-pohon pioneer. Naungan alami sangat penting untuk penanaman-penanaman selanjutnya di kawasan Arboretum. Penanaman-penanaman selanjutnya terus dilakukan, jenis-jenis pohon yang ditanam merupakan jenis pohon inti yang biasanya jenis tersebut hanya dapat ditemukan di hutan-hutan belantara. Pohon inti umumnya bersifat toleran dan semi-toleran yang artinya peka terhadap penerimaan cahaya matahari langsung, itulah sebabnya naungan alami menjadi sangat penting untuk keberhasilan penanaman jenis-jenis pohon hutan.

Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN hingga kini memiliki luas kawassan sekitar 3,2 hektar, yang terdiri dari 20 blok dan 3 buffer zone.Tanaman yang ada di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN merupakan koleksi tanaman endemik kalimantan barat yang yang di dapat dari hutan-hutan kalimantan barat. Namun tidak menutup kemungkinan untuk masuknya tanaman eksotik. Selain itu juga dapat di kembangkan tanaman buah-buahan. Koleksi jenis tumbuhan di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN hingga kini berjumlah lebih dari 450 jenis, 214 jenis diantaranya merupakan pohon yang merupakan jenis-jenis pohon dari hutan-hutan di Kalimantan Barat seperti Meranti, Ulin, Ramin, Jelutung, Gaharu, Bengkirai, Agathis. Pohon buah-buahan seperti durian, jambu-jambuan, nangka, langsat, rambutan, dll. Serta dilengkapi dengan jenis angrek-angrekan dan paku-pakuan. Untuk jenis fauna yang ada di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN terdapat berbagai mamalia seperti kalelawar dan tupai, jenis reptil seperti biawak, kadal, dan ular, berbagai jenis burung, dan berbagai jenis serangga.
Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam pengelolaan Arboretum yaitu :

Melestarikan sumber daya alam berupa flora dan fauna yang merupakan aset ilmu pengetahuan ilmiah bagi orang banyak dan bagi generasi-generasi mendatang.
Mengembangkan Arboretum Sylva UNTAN menjadi sebuah replika hutan Kalimantan dengan mengkoleksi tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewakili hutan-hutan di Kalimantan Barat khususnya.

Mempertahankan nilai-nilai dari arti pentingnya keberadaan hutan, terlebih khusus keberadaan hutan atau ruang terbuka hijau didalam kota. Meningkatkan upaya konservasi sumber daya hutan.

Meningkatkan fungsi dan nilai lahan yang terdapat di lingkungan kampus sehingga Arboretum Sylva UNTAN dapat menjadi hutan pendidikan dan penelitian, sebagai ruang terbuka hijau yang menciptakan iklim mikro dan nilai estetika serta mengembangkan sejumlah fasilitas yang dapat dinikmati oleh orang banyak tanpa merusak areal arboretum.

BAB III
METODE PENGAMBILAN DATA

A. Tempat dan Waktu

 Pengambilan data ini di laksanakan pada Kawasan Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN, Pontianak Kalimantan Barat, dengan waktu nya selama dua minggu.

B. Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang diperlukan dalam pengambilan data :
a.Peta Lokasi
b.Kamera
c.Alat tulis menulis
d.Tally sheet
e.Buku identifikasi tanaman obat

2.BahanPenelitian

Bahan yang digunakan yaitu tumbuhan obat yang ada di Kawasan Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN.

C. Metode

Pengambilan data pada tanaman obat ini menggunakan metode eksplorasi.
Explorasi yang digunakan yaitu dengan cara menjelajahi setiap block-block di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN. Pada tahap awal di lakukan oservasi terlebih dahulu untuk mengetahui keberadaan tumbuhan yang berkhasiat obat pada kawasan Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN. Setelah itu dilanjutkan dengan menjelajahi setiap sudut lokasi dimana ditemukannya tumbuhan yang berkhasiat obat. Untuk mempermudah pengambilan data maka dilakukan ekplorasi berurutan dari blok A sampai blok T serta buffer zone. Analisa data Tumbuhan yang berkhasiat obat yang ditemukan di dalam block,di identifikasi menggunakan buku identifikasi tanaman obat.Pengambilan data tumbuhan yang berkhasiat obat yang ditemukan di dalam block langsung di catat ke dalam tally sheet dan di dokumentasikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabulasi Nama-Nama Tanaman Obat Yang Ada Di Arboretum Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

No
Nama daerah
Nama Latin
Famili
Bagian Yang Digunakan
1
Alang-alang
Imperata cylindrical
Poaceae
Akar
2
Bawang dayak
Sisyrinchium palmifolium
Iridaceae
Umbi, daun
3
Bandotan
Ageratum conyzoides
Asteraceae
Akar, daun
4
Cabe Rawit
Capsicum frutescens
Solanaceae
Buah
5
Cengkodok/senduduk
Melastoma malabathricum
Melastomataceae
Daun, akar
6
Cocor bebek
Kalanchoe Pinnata
Crassulaceae
Daun
7
Ceplukan
Physalis peruviana
Solanaceae
Seluruh bagian tumbuhan
8
Ganda Rusa
Justicia gendarussa
Acanthaceae
Seluruh bagian tumbuha
9
Genjer
Limnocharis flava
Limnocharitaceae
Daun
10
Lidah Buaya
Aloe vera
Xanthorrhoeaceae
Daun
11
Lidah Mertua
Sansevieria trifasciata
Ruscaceae
Daun, rimpang
12
Putrid Malu
Mimosa pudica
Fabaceae
Akar
13
Ubi Jalar
Ipomoea batatas
Convolvulaceae
Umbi, daun
14
Rinjuang
Cordyline fruiticosa
Asparagaceae
Daun
15
Ubi Kayu
Manihot esculenta
Euphorbiaceae
Daun, Umbi, Kulit
16
Paku Sarang Burung
Asplenium nidus
Aspleniaceae
Daun
17
Kunyit
Curcuma longa
Zingiberaceae
Rimpang
A. Hasil

1. Alang - Alang
Famili : Poaceae
Nama latin : Imperata cylindrica

 Alang-alang merupakan jenis rumput yang tingginya bisa mencapai 2 meter, rimpang kaku yang tumbuh menjalar. Batangnya padat berbentuk slindris, berdiameter 2-3 mm, dengan ruas-ruas berambut jarang. Daun berbentuk pita lanset berujung runcing, dengan pangkal yang menyempit dan berbentuk palang. Bunga dalam bentuk malai bewarna putih dengan panjang 6-30 cm. Buah berbentuk jorong, panjang 1-2 mm, bewarna coklat tua, dan mempunyai banyak biji yang sangat kecil berambut halus dan mudah diterbangkan oleh angin. Dimanfaatkan untuk menyuburkan atau menghitamkan rambut (Urang-aring Rp.6000 /botol kecil)

2. Bawang Dayak
Famili : Iridaceae
Nama Latin : Sisyrinchium palmifolium

Bawang dayak berupa herba merumpun yang tingginya mencapai 50 cm. Batang nya tumbuh tegak atau meruntuk, berumbi yang berbentuk kerucut dan warna nya merah. Daunya ada dua macam,yaitu yang sempurna berbentuk pita dengan ujungnya yang meruncing,sedangkan daun lain-daun lainya berbentuk menyerupai batang. Bunga tunggal, berwarna putih, muncul di ketiak daun atas. Buah atas nya berbentuk jorong. Dengan bagian ujungnya berlekuk. Bentuk bijinya bundar telur atau hampir bujur sangkar. Khasiat Bawang dayak yaitu dapat mengobati berbagai penyakit seperti demam (Bodrex Rp. 4.000 /keeping).

3.Bandotan
Famili : Asteraceae
Nama latin : Ageratum conyzoidea

Bandotan adalah tumbuhan herba semusim, tumbuh tegak atau bagian bawahnya berbaring, tingginya sekitar 30-50 cm dan bercabang banyak. Batangnya berbentuk bulat, lunak dan berbulu tebal. Daunnya berbentuk bulat telur, bewarna hijau atau hijau kekuningan dan kuning berbintik hijau. Bunganya banyak, kecil-kecil berkumpul dalam satu tabung, warna bunganya ada yang bewarna ungu dan bewarna putih. Digunakan untuk mengobati diare (Entrostop Rp. 6.000 /keeping)

4. Cabe Rawit
Famili : Solanaceae
Nama latin : Capsicum frutescens

Batang utama tumbuh tegak dan kuat. Percabang terbentuk setelah batang mencapai ketinggian 30-45 cm. Daun berbentuk bulat telur, dengan ujung runcing dan tepi daun rata. Digunakan untuk mempercepat metabolisme tubuh, membantu menurunkan berat badan (The Herbal Rp. 25.000 /kotak).

5. Cengkodok/senduduk
Famili : Melastomataceae
Nama latin : Melastoma malabathricum

Cengkodok berupa herba atau pohon kecil yang tingginya ± 5 m. Batang mempunyai percabangan dan bulu-bulu halus. Bentuk daun lonjong atau elips sampai ke langset. Pertulangan daun nampak jelas dari pangkal sampai ujung daun, warna helaian daun sebelah atas adalah hijau dan bagian bawah hijau pucat, daun berbulu halus. Pembungaan di ujung cabang 3-12 bunga, warna merah. Buah kecil, bentuk seperti kapsul, warna biru tua sampai hitam, warna biji oranye. Yang biasa dimanfaatkan yaitu sakit gigi (Obsagi Rp. 2.500 /bks).

6.Cocor bebek
Famili : Crassulaceae
Nama latin : Kalanchoe Pinnata

Cocor bebek berupa herba mencapai satu meter tingginya. Batang tegak, lunak, bersegi empat dan beruas-ruas. Daun tunggal berbentuk lonjong, tebal, bertangkai pendek. Bunga majemuk berbentuk malai, kelopak silindris merah keunguan, mahkota berbentuk corong bewarna merah. Buah kotak, bewarna ungu bernoktah putih. Bijinya kecil bewarna putih. Digunakan untuk mengobati luka (Obat merah Rp. 12.000 /botol).

7.Ceplukan
Famili : Solanaceae
Nama Latin : Physalis peruviana

Ceplukan berupa herba yang berperawa kan tinggi dapat mencapai 1 m. Akarnya berupa akar tunggang dan bewarna putih. Batangnya tegak berbentuk segi empat, berkayu, lunak, hijau pucat. Daun tunggal, duduk daun berseling, berbentuk lonjong dengan tepi bergelombang, panjang 8-11 cm, lebar 5-7 cm,ujung daun runcing, pangkal daun tumpul. Bunga berbentuk corong keluar dari ketiak daun dengan kelopak berlekatan, bercangap lima ,berwarna hijau, benang sari lima, tangkai sari kuning, kepala sari biru dengan satu putik,berbulu dan berwarna kuning pucat. Ketika muda berwarna hijau dan setelah masak berwarna kuning pucat. Penyakit yang bisa diobati adalah obat bengkak (Zambuk Rp. 45.000).

8. Ganda Rusa
Famili : Acanthaceae
Nama Latin : Justicia gendarussa

 Gandarusa berupa perdu tumbuhan tegak, tinggi dapat mencapai 2 m. Percabangan banyak,dimulai dari dekat pangkal batang. Cabang yang masih muda bewarna ungu gelap dan bila sudah tua warnanya menjadi cokelat mengkilap. Letak daun berhadapan, daun tunggal berbentuk. Penyakit yang biasa di obati adalah sakit kepala (Paramex Rp. 2.500 /bks).

9. Genjer
Famili : Limnocharitaceae
Nama Latin : Limnocharis flava

Genjer merupakan herba tahunan yang dapat mencapai tinggi 30 cm dan memiliki rimpang tebal dan tegak, terbenam dalam lumpur. Batang tegak lurus, berbentuk bundar, tidak berkayu dan berwarna hijau,daun tegak atau miring, tangkai nya panjang dan berlubang,bentuk helai nya bervariasi, susunan daun nya melengkung. Bunga majemuk terdapat di ketiak daun, berbentuk payung, terdiri dari atas 3-15 kuntum, mahkota berwarna kuning, kelopak berwarna hijau, buah semu dengan biji bulat, kecil dan berwarna hitam. Digunakan untuk antibiotik (antibiotic Rp. 18.000 /keeping).

10. Lidah Buaya

Famili : Xanthorrhoeaceae
Nama Latin : Aloe vera
Lidah buaya berupa herba dengan batang yang sangat pendek. Daunnya agak runcing berbentuk taji, tebal, getas, tepinya bergerigi/berduri kecil, permukaan berbintik-bintik, panjang 15-36 cm, lebar 2-6 cm, bunga bertangkai yang panjangnya 60-90 cm. Bunga bewarna kuning kemerahan (jingga). Digunakan sebagai penyubur rambut (Urang-aring Rp. 6000 /btl kecil).

11.Lidah Mertua

Famili : Ruscaceae
Nama Latin : Sansevieria trifasciata
  Lidah mertua merupakan herba tahunan dengan tinggi mencapai 40 cm. Batangnya membentuk rimpang bewarna kekuningan. Daunnya tunggal dengan duduk daun berkarang, berdaging, berbentuk lanset, bewarna hijau tua bernoda putih atau kuning. Bunganya majemuk, berbentuk tandan, panjangnya mencapai 85 cm,muncul dari ujung akar rimpang, bewarna putih kekuningan. Buah buni berbentuk bulat telur, bewarna hijau. Bijinya juga bulat telur bewarna hitam. Penyakit yang bisa diobati adalah batuk (Komix Rp. 2000 /bks).

12. Putri Malu

Famili:Fabaceae
Nama Latin:Mimosa pudica
Putri malu adalah tanaman yang menempel di atas tanah,bila di sentuh akan menutup, daun putri malu di lngkapi dengan tangkai sepanjang 10-20 cm.Pada tangkai tersebut muncul beberapa tangkai kecil tempat muncul nya daun.Putri malu memiliki bunga berwarna ungu dan mendekati warna merah jambu. Putri malu memiliki batang sebesar lidi, seluruh batang di lindungi oleh duri.
Tanaman ini bisa di temukan di dataran rendah dan dataran tinggi. Cacingan (Kombantrin RP 15 000)

13. Ubi Jalar

Famili :Convolvulaceae
Nama Latin:Ipomoea batatas
Tanaman semusim dengan batang menjalar, panjang mencapai 3 m. Batang beruas-ruas, lunak, tidak berkayu, bulat, bagian dalam bergabus. Daun berbentuk bulat, lonjong atau bulat meruncing., tepi rata dan berlekukdalam dan menjari., berwarna hijau atau hijau kekuningan. Bunga berbentuk terompet, panjang 3-5 cm, mahkota berwarna ungu keputih-putihan dan bagian dalam nya berwarna ungu muda, muncul di ketiak daun. Buah berkotak tiga dengan biji ringante tapi berkulitkeras. Umbi berbentuk bulat, lonjong atau bulat panjang, warna kulit umbi bisa putih, kecokelatan, merah, ungu, agak merah, atau kuning dengan warna umbi bisa putih, kuning, orange atau merah. Tumbuhan ini dapat mengurangi risiko Diabetes (Vhita Jel Rp 135 000)

14. Rinjuang

Famili:Asparagaceae
Nama Latin:Cordyline fruiticosa
Daun tunggal menempel pada batang terutama mengumpul pada batang, terutama mengumpul pada batang,bentuk lanset,pangkal dan ujung runcing,tepi rata,panjang 20-60 cm,lebar 10-15 cm,pertulangan menyirip,berwarna hijau tua atau merah kecokelatan,tepi daun rata.Perbungaan berbentuk malai,tumbuh di ketiak daun dengan tangkai bunga panjang,bunga berwarna kuning atau kemerahan, dan beraroma, buah buni,berwarna merah mengkilap.

Biji hitam mengkilap.Akar serabut berwarna merah kotor.penyakit yang bisa diobati adalah haid terlalu banyak,batuk darah,TBC,pendarahan,dan luka.

15. Ubi Kayu

Famili :Euphorbiaceae
Nama Latin:Manihot esculenta
Tanaman perdu yang tingginya mencapai 2-3 meter. Batang bulat dengan bekas dudukan yangmenonjol. Daun berbentuk seperti jari, memiliki lembaran-lembaran yang menjuntai yang mirip jari manusia, lebar 2-4 cm dan panjang 7-12 cm. Bunga majemuk berbentuk tandan, bunga betina berbagi lima, bunga jantan berbentuk lonceng. Buah bulatberwarna hijau berbiji cokelat. Umbi memiliki garis tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm. Berwarna kekuning-kuningan, tetapi ada juga yang berwarna putih. Tumbuhan ini dapat mengobati penyakit rematik (Herbalin Rp 5000 / bungkus).

16.  Paku Sarang Burung

Famili: Aspleniaceae
Nama Latin: Asplenium nidus
Pokok daun semunya mempunyai batang pokok yang pendek dan bersisik. Di bawah rizom itu terdapat serumpun akar dengan banyak akar rambut untuk mengumpul kelembaban daripada hujan atau udara yang lembab. Daun atau pelepah pokok daun semu adalah panjang sehingga 150 cm atau lebih. Pada permukaan bawah daun terdapat alur-alur halus yang bercabang seperti jejari dan yang kelihatan seolah olah vena. Alur-alur ini mengandungi spora yang kelihatan seolah-olh habuk perang. Tumbuhan memiliki manfaat menyuburkan sakit kepala (Paramek rp 4000 / keeping)

17. Kunyit

Famili :Zingiberaceae
Nama Latin :Curcuma longa
Kunyit berupa Semak, dengan tinggi mencapai 70 cm. Berbatang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang, hijau kekuningan. Daun tunggal, lanset memanjang, helai daun 3-8, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 12,5 cm, pertulangan menyirip, hijau pucat. Bunga majemuk, berambut, bersisik, tangkai panjang 16-40 cm, mahkota panjang ± 3 cm, lebar ±1,5 cm, kuning, kelopak silindris, bercangap tiga, tipis, ungu, pangkal daun pelindung ungu, akar serabut, berwarna cokelat muda. Tumbuhan ini bermanfaat menyembuhkan memar (Zambuk Rp 45 000 / kaleng).

B. Pembahasan

Dari hasil pengumpulan data di Luasan Arboretum Fakultas Kehutanan yang mencapai 3,2 ha dengan 20 block dan dilengkapi 3 buffer zone, ditemukan banyak sekali tumbuhan bawah berkhasiat obat bervariasi jenis. Tumbuhan bawah berkhasiat obat yang ditemukan sangat banyak. Keanekaragaman jenis ini ditemukan di setiap block-block yang ada di Arboretum secara bervariasi.

     Terbukti dari hasil penelitian bahwa dari sekian banyak tumbuhan bawah di Arboretum ditemukan 36 jenis yang berkhasiat obat, Jenis tersebut terdiri dari terna, semak, liana, dan rumput-rumputan. Diantara sekian banyak tumbuhan bawah berkhasiat obat yang ditemukan, ada 2 jenis yang merupakan endemik dari kalimantan yaitu Jeringau merah (acorus sp) dan Bawang dayak (Sisyrinchium palmifolium). Tumbuhan ini biasa digunakan masyarakat adat dayak sebagai obat tradisional yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti demam, darah tinggi, diare, luka, dan pendarahan. Berbagai tumbuhan yang di anggap rumput/hama ternyata berkhasiat obat. Tidak hanya itu, tumbuhan bawah hias juga beberapa memiliki khasiat obat seperti lidah mertua (Sansevieria trifasciata).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
 Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN merupakan kebun koleksi tanaman endemik kalimantan, dengan total flora kurang lebih 400an jenis. 214 di antaranya merupakan jenis-jenis pohon endemik kalimantan seperti Meranti-merantian (shorea sp),Belian (Eusideroxylon zwageri), Damar (Agathis borneensis),dll. Dari hasil pengambilan data ini ditemukan 17 jenis tumbuhan berkhasiat obat diantaranya putri malu (Mimosa pudica), tumpangan air (Peperomia pellucida), cengkodok (melastomata malabathricum), dll. 17 jenis tumbuhan ini tergolong famili yang berbeda, diantaranya seperti poacae, araceae, zingiberaceae, dll. Ditemukan pula tumbuhan endemik kalimantan yaitu Bawang dayak(Sisyrinchium palmifolium) yang biasa digunakan masyarakat adat dayak sebagai alternatif pengobatan tradisional.

Serta segala jenis paku-pakuan, tumbuhan bawah hias, anggrek, dll yang ditemukan ternyata berkhasiat obat. Dari sekian banyak tumbuhan bawah arboretum ini, sebagian besar merupakan tumbuhan obat, yang dapat digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit seperti kanker, darah tinggi, demam, pendarahan, batuk, diabetes, hepatitis,dll. Arboretum sylva UNTAN ternyata menyimpan banyak potensi tumbuhan berkhasiat obat yang dapat di kembangkan sebagai daya dukung pengelolaannya.

B. Saran
Sebaiknya tumbuhan berkhasiat obat yang ada di Arboretum Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC UNTAN harus di kelola dan dijaga dengan baik agar tumbuhan ini dapat di manfaatkan dengan sebaik mungkin, dan sistem pengelolaan Arboretum diharapkan dapat di terapkan sebagai solusi untuk pelestarian plasma nutfah, serta makalah ini juga diharapkan dapat di publikasikan dalam bentuk buku agar informasi  mengenai tumbuhan yang berkhasiat obat di Arboretum ini diketahui banyak orang.

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, S dan Napitupulu, R.M. 2015. Kitab Tumbuhan Bawah. Jakarta : Agriflo (Penebar Swadaya Grup).

Suparni dan Wulandari, A. 2012. 1001 Ramuan Tradisional Asli Indonesia. Yogyakarta : Rapha Publishing (ANDI Yogyakarta).

Soeryoko , Hery. 2011. 20 Tanaman Obat Paling Berkhasiat Penakluk Asam Urat. Yogyakarta : CV ANDI OFFSET.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Ayo Mengenal Tanaman Obat. Jakarta : IAARD Press.

Hidayat, D dan Hardiansyah, G. 2012. Studi Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat di Kawasan IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Camp Tontang Kabupaten Sintang. Pontianak : Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Kawasan IUPHHK PT. Sari Bumi Kusuma Camp Tontang Kabupaten Sintang.Pontianak :

Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.





Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Laporan praktikum EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN (ESDH) "

Post a comment

ads

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel